Aku menatap jauh ke
langit biru, begitu bersih tak ada gumpalan awan putih. Sama seperti hatiku,
masih bersih tidak pernah terwarnai. Terbesit diotakku, apakah aku bisa
memilikinya? Tidak, tidak untuk memilikinya tapi hanya untuk mengenal lebih
dekat.
Entahlah, jika aku bayangkan siapa dan
bagaimana aku, kurasa itu mustahil. Selalu membayangkan membuat ku semakin
tersakiti dengan angan-angan yang tak pernah terjadi. Ya, angan-angan yang
hanya hinggap dilangit sana terus menerus yang tidak pernah bisa kusentuh
keberadaan nyatanya.
**
Aku,
Mentari Turocya. Biasa dipanggil Oca adalah siswa yang paling sering datang
terlambat. Jika bel bunyi aku baru sampai digerbang sekolah. Akan
terngopoh-ngopoh berlari dilapangan sekolah menuju kelasku. Seperti hari ini,
lagi-lagi aku terlambat.
Dengan
semangat ’45 aku berlari menyusuri lapangan sekolah menuju kelasku yang cukup
jauh dari gerbang sekolah, tidak kuhiraukan orang-orang yang memperhatikanku,
termasuk dia. Tapi untunglah, bel sudah berbunyi tetapi pelajaran belum
dimulai. Guru belum masuk.
Aku
menghampiri meja ku. Dan menyapa teman sebangku ku, Dania.
“Hai Dania, sendirian nih?” sapaku sambil bertanya.
“Gak, berdua. Udah tau sendiri masih ditanya”
Teman sebangku ku, Dania Denicha. Orang yang cerewet dan suka
bercanda!
“Jam segini baru dateng? Katanya mau dateng pagian? Mau minjem
PR Fisika gue” sambung Dania.
“Iya, iya. Sori, gue tadi telat bangun. Eh iya, ada yang mau
gue ceritain nih” duduk dan mencari-cari buku Fisikaku.
“Cerita apa? Cerita dong? Cerita! “desak Dania.