Saturday, July 27, 2013

Menggenggam Pijar Purnama (Part I)

Aku menatap jauh ke langit biru, begitu bersih tak ada gumpalan awan putih. Sama seperti hatiku, masih bersih tidak pernah terwarnai. Terbesit diotakku, apakah aku bisa memilikinya? Tidak, tidak untuk memilikinya tapi hanya untuk mengenal lebih dekat.
Entahlah, jika aku bayangkan siapa dan bagaimana aku, kurasa itu mustahil. Selalu membayangkan membuat ku semakin tersakiti dengan angan-angan yang tak pernah terjadi. Ya, angan-angan yang hanya hinggap dilangit sana terus menerus yang tidak pernah bisa kusentuh keberadaan nyatanya.
**
      Aku, Mentari Turocya. Biasa dipanggil Oca adalah siswa yang paling sering datang terlambat. Jika bel bunyi aku baru sampai digerbang sekolah. Akan terngopoh-ngopoh berlari dilapangan sekolah menuju kelasku. Seperti hari ini, lagi-lagi aku terlambat.
      Dengan semangat ’45 aku berlari menyusuri lapangan sekolah menuju kelasku yang cukup jauh dari gerbang sekolah, tidak kuhiraukan orang-orang yang memperhatikanku, termasuk dia. Tapi untunglah, bel sudah berbunyi tetapi pelajaran belum dimulai. Guru belum masuk.
      Aku menghampiri meja ku. Dan menyapa teman sebangku ku, Dania.
      “Hai Dania, sendirian nih?” sapaku sambil bertanya.
      “Gak, berdua. Udah tau sendiri masih ditanya”
      Teman sebangku ku, Dania Denicha. Orang yang cerewet dan suka bercanda!
      “Jam segini baru dateng? Katanya mau dateng pagian? Mau minjem PR Fisika gue” sambung Dania.
      “Iya, iya. Sori, gue tadi telat bangun. Eh iya, ada yang mau gue ceritain nih” duduk dan mencari-cari buku Fisikaku.
      “Cerita apa? Cerita dong? Cerita! “desak Dania.