Monday, December 29, 2014

ceritamu di dalam ceritaku

Saat memejamkan mata, aku membayangkan surga --bahagia saat dicintaimu, juga saat mencintaimu. semuanya terasa begitu mudah, terasa sempurna. Seperti cerita cinta sepanjang masa, aku bersyukur takdir membuatku jatuh cinta kepadamu.

Namun, semakin lama mata ini terpejam, air mata malah jatuh perlahan-lahan. Aku menangis, kini teringat setiap perih yang ditorehkan dustamu di hatiku. Tak sekali-dua kali aku mencoba membuat pembenaran, menciptakan alasan bahwa kau mungkin tak bersungguh-sungguh melukaiku. Kau bahkan tak mencoba membela dirimu. Kau menundukkan kepala, membisu.

Dan kini, lihat, aku menertawakan diriku sendiri.
Betapa ironisnya hidup ini, sayangku.
Kau yang selalu bisa membuatku tertawa justru yang paling bisa membuatku menangis...

a novel; memilikimu

Tuesday, March 04, 2014

The words meant to be....


Setelah bertahun-tahun lamanya, takdir mempertemukan kau dan aku lagi. Berdiri, berhadap-hadapan, dan sama-sama bingung memulai percakapan. Harusnya "Apa kabar?" dan "Aku selalu memikirkanmu" bisa dengan mudah meluncur dari bibir kita. Tapi, kau bergeming di tempatmu berdiri dan aku tak akan mengizinkan kau melihatku meneteskan air mata rindu. Aku menutup rapat-rapat hati dan menyembunyikan kuncinya sejauh mungkin darimu. Tak ingin kau menyentuhku semudah itu. Tak akan membiarkanmu memelukku seerat dulu.

Kulawan semua godaan yang menghampiriku dan ingin pergi jauh-jauh darimu... meskipun yang kulakukan justru berusaha menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Kukatakan sudah berhenti memikirkanmu -- tetapi aku sendiri ragu akan hal itu.

Aku benci tak jujur kepadamu. Namun, lebih khawatir kau akan membuatku jatuh cinta lagi untuk kedua kali.

Membuatku jatuh dan terluka kali....

a novel; promises, promises

Monday, March 03, 2014

Menggenggam Pijar Purnama (Part III, the end)

        Oca?
        Hanya tiga huruf dan ditambah satu tanda tanya. Pengirimnya hanya nomor yang tidak aku ketahui. Aku yang sebelumnya tidak tau itu Rama pun membalas dengan singkat.
        Iya, maaf ini siapa ya?
      Satu menit kemudian, pesan singkat masuk lagi di handphone-ku. Aku membukanya dan lagi-lagi dari nomor yang sama.
         Siapa hayo?
      Aku semakin bingung. Siapa ini? Kenapa malah balik bertanya? Aku pun tidak membalas sms nya lagi. Aku paling tidak suka orang yang tidak ada kerjaan dan hanya mengganggu saja. Tidak penting!
      Sepertinya kebodohan ku semakin menjalar, keesokan harinya baru lah aku tau ternyata orang yang mengirim pesan singkat kemarin itu adalah Rama. Setelah dia memberi tau ku siapa dia yang sebenarnya.
      Ca, ini aku Rama. Kok kamu gitu sih bales sms-nya?
      Bukannya aku senang, aku malah terdiam. Berpikir bodohnya aku telah mengabaikan smsnya kemarin padahal aku selalu menunggu, menunggu untuk bisa mengenalnya. Menunggu, setelah berujung malah aku abaikan. Jangan abaikan, jangan abaikan, jangan abaikan hatiku berkata.
      Keesokan harinya.
      Semakin aku menunggu, malah semakin tidak ada lagi smsnya. Sejak dia memberi tau ku siapa dia sebenarnya, namanya tidak pernah muncul lagi dilayar handphone-ku. Aneh, aku abaikan dia hadir, aku tunggu dia pergi.
Hari demi hari, dia muncul lagi walau hanya sesekali mengirim ku pesan singkat. Tidak terlalu aku pikirkan, mulai sekarang aku tidak pernah berharap. Tapi lagi-lagi disuatu hari tiba-tiba dia menyatakan.

Menggenggam Pijar Purnama (Part II)

      "Siapa sih?" Potong Dania.
     “Iya, sabar dong. Gue suka sama Rama, ehehehe tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya” ujarku setengah malu.

      “Rama? Lo suka Rama? Kok bisa? Trus hubungannya sama pertanyaan awal lo tadi apa?” pertanyaan yang sungguh aneh.

      Dan aku pun menceritakan awal kisahnya. Aku menyukai Rama. Aku mengetahuinya cukup aneh dan memalukan melalui jejaring sosial facebook. Dia selalu hadir disetiap pagi mingguku dengan mengirimkan obrolan-obrolan singkat. Awalnya, aku selalu mengabaikan setiap obrolannya tetapi batinku selalu bertanya akan dia dan membuat aku selalu mencari tau tentang dia, akhirnya aku menyukainya dan ingin mengenal lebih dekat. Entahlah, tak dapat ku bayangkan aku mulai menyukai seseorang cowok!

      Tapi, satu hal membuatku tak yakin dengan apa yang kurasa. Orang yang dulu dekat denganku pernah memiliki hubungan dengan Rama. Ya, walau pernah memiliki hubungan dan sudah tidak ada lagi, aku masih saja berpikiran aku takut dan aku tidak ingin menyakiti orang yang dulu dekat dengan ku itu tapi apa yang selalu Dania katakan padaku membuat ku tertegun,

“Dia udah gak ada lagi hubungannya, toh terserah lo dan Ramanya dong, kenapa dia harus marah? Kan dia udah bukan punya Rama lagi. Duh Oca, kamu takut kenapa sih? Biasa aja lagi. Kalo dia sampe ngelabrak lo, gue yang maju duluan” ucapan Dania yang berkoar-koar membuatku tak memikirkan lagi orang yang dekat dengan ku itu. Dania benar.

Bersama Dania, setiap sore aku selalu keliling kota hanya untuk mencari Rama. Mungkin aku sudah gila, berubah menjadi orang yang aneh,  mulai memperhatikan penampilan dan tidak pernah datang terlambat lagi. Cukup aneh bukan? Untuk apa aku berubah? Untuk menarik perhatiannya? Konyol! Tapi semuanya tidak sia-sia, setiap aku mencarinya aku akan selalu bertemu dengannya entah bagaimana caranya. Kulakukan itu setiap hari dan Dania pun juga mendukungku. Termasuk Eira, aku juga menceritakan kepadanya.

      Hingga suatu hari, semuanya sirna. Kegiatan konyol ku dengan Dania seakan sia-sia.