Monday, March 03, 2014

Menggenggam Pijar Purnama (Part II)

      "Siapa sih?" Potong Dania.
     “Iya, sabar dong. Gue suka sama Rama, ehehehe tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya” ujarku setengah malu.

      “Rama? Lo suka Rama? Kok bisa? Trus hubungannya sama pertanyaan awal lo tadi apa?” pertanyaan yang sungguh aneh.

      Dan aku pun menceritakan awal kisahnya. Aku menyukai Rama. Aku mengetahuinya cukup aneh dan memalukan melalui jejaring sosial facebook. Dia selalu hadir disetiap pagi mingguku dengan mengirimkan obrolan-obrolan singkat. Awalnya, aku selalu mengabaikan setiap obrolannya tetapi batinku selalu bertanya akan dia dan membuat aku selalu mencari tau tentang dia, akhirnya aku menyukainya dan ingin mengenal lebih dekat. Entahlah, tak dapat ku bayangkan aku mulai menyukai seseorang cowok!

      Tapi, satu hal membuatku tak yakin dengan apa yang kurasa. Orang yang dulu dekat denganku pernah memiliki hubungan dengan Rama. Ya, walau pernah memiliki hubungan dan sudah tidak ada lagi, aku masih saja berpikiran aku takut dan aku tidak ingin menyakiti orang yang dulu dekat dengan ku itu tapi apa yang selalu Dania katakan padaku membuat ku tertegun,

“Dia udah gak ada lagi hubungannya, toh terserah lo dan Ramanya dong, kenapa dia harus marah? Kan dia udah bukan punya Rama lagi. Duh Oca, kamu takut kenapa sih? Biasa aja lagi. Kalo dia sampe ngelabrak lo, gue yang maju duluan” ucapan Dania yang berkoar-koar membuatku tak memikirkan lagi orang yang dekat dengan ku itu. Dania benar.

Bersama Dania, setiap sore aku selalu keliling kota hanya untuk mencari Rama. Mungkin aku sudah gila, berubah menjadi orang yang aneh,  mulai memperhatikan penampilan dan tidak pernah datang terlambat lagi. Cukup aneh bukan? Untuk apa aku berubah? Untuk menarik perhatiannya? Konyol! Tapi semuanya tidak sia-sia, setiap aku mencarinya aku akan selalu bertemu dengannya entah bagaimana caranya. Kulakukan itu setiap hari dan Dania pun juga mendukungku. Termasuk Eira, aku juga menceritakan kepadanya.

      Hingga suatu hari, semuanya sirna. Kegiatan konyol ku dengan Dania seakan sia-sia.
Setiap perubahanku tidak ada artinya. Ketika aku membuka facebook-ku, diberanda  tampillah perubahan status hubungannya dengan seorang cewek. Cewek yang aku kenal dulunya adalah adik kelas ku yang satu SMP dengan ku. Ternyata Rama baru jadian dihari itu. Sungguh tidak bisa ku bayangkan, ternyata dia tidak pernah melihat kepadaku, sekalipun menoleh dan mungkin hanya aku yang terlalu berharap selama ini.

**

Aku menatap jauh ke langit biru, begitu bersih tak ada gumpalan awan putih. Sama seperti hatiku saat ini, masih bersih tidak pernah terwarnai. Terbesit diotakku, apakah aku bisa memilikinya? Tidak, tidak untuk memilikinya tapi hanya untuk mengenal lebih dekat.

Masih saja aku berharap padahal Rama sudah ada yang punya. Dia tidak lagi hadir disetiap mingguku. Tidak ada lagi. Aku ingin melupakannya. Membuang jauh rasa ini, tetapi keinginanku hanya untuk mengenalnya lebih dekat membuatku mengurungkan niatku. Entah apa yang membuat aku ingin mengenalnya. Aku menantinya.

Sekitar dua minggu berlalu

Penantian ku berujung manis, Rama putus dengan ceweknya itu. Tapi bukan berarti aku ingin dia menjadi milikku dan hadir disetiap pagi mingguku lagi, tapi aku hanya ingin mengenalnya tanpa harus ada penghalang. Entah bagaimana caranya tapi aku tidak akan memulai. Dan yang ku lakukan hanya menunggu lagi.

Sebulan berlalu

Tidak ada tanda-tanda, kurasa aku tidak akan berharap lagi, setelah dia putus bukannya aku bisa mengenalnya tapi malah dia tidak pernah muncul lagi. Aku tidak mau berharap lagi. Cukup. Aku tidak ingin mengenalnya. Aku menyukainya tetapi dia tidak pernah tau. Aku kembali seperti aku yang dulu, yang tidak ingin mencarinya kesana sini, membiarkan penampilanku seadanya dan semena-mena datang terlambat.

Tapi baru beberapa langkah aku berubah, Rama kembali lagi. Mimpi apa aku? Dia mulai menyapaku lagi difacebook. Tapi tidak terlalu aku tanggapi, aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi walau masih tersimpan rasa suka kepadanya. Selalu membayangkan membuat ku semakin tersakiti dengan angan-angan yang tak pernah terjadi. Ya, angan-angan yang hanya hinggap dilangit sana terus menerus yang tidak pernah bisa kusentuh keberadaan nyatanya.

Hingga suatu malam, tiba-tiba dia mengirimku sebuah obrolan, aku mengira itu hanya obrolan biasa tapi aku salah, dia menanyakan hal yang tidak aku sangka.

“Hai, Ca” sapanya.

“Hai juga” aku membalas dengan sekedarnya.

“Hmm.. Boleh minta nomernya gak?” tanyanya to the point.

“Nomer apa?” Aku yang setengah terkejut hanya bisa bertanya balik seperti itu.

“Nomer handphone-nya lah masa nomer sepatu” jawabnya.

Aku terdiam sejenak, tidak ku balas obrolannya, aku masih tidak yakin dan percaya, benarkah ini? Apakah ini mimpi? Tidak, tidak, ini nyata. Lalu kubalas obrolannya.

“Hmm.. Boleh” jawabku dan kuberi nomernya.

“Makasih ya” Ujarnya.

“Sama-sama” Ucapku singkat.

Kumatikan obrolan dan kututup akun facebook-ku.

Aku tertegun. Yakinkah aku? Dengan bodohnya langsung memberikan nomor handphone-ku. Bodoh! Bodoh! Kenapa aku harus memberinya langsung? Tanpa berpikir dulu? Oca bodoh! Aku merasa ada yang lain, entah itu baik atau buruk. Kucoba untuk menghilang semua pikiran itu.

**

      Apa yang harus ku lakukan? Bingung. Menunggu? Haruskah aku menunggu berulang kali untuk hal yang tidak pasti? Lelah membuatku tidak akan menunggu lagi.  Memang ini bisa menjadi langkah untuk aku mencoba mengenalnya. Tetapi untuk apa aku menunggu? Aku memang menyukainya tapi dia belum tentu! Hatiku berkata.

      Tapi anganku ingin mengenal Rama kembali lagi membuatku menunggu. Ingin mengenalnya, hanya mengenal walau sedikit demi sedikit ada rasa untuk memilikinya. Entahlah, aku sudah buta dibuatnya. Bertanya pun pada Dania dan Eira, mereka hanya menjawab, “Tunggu aja deh, kan lo mau mengenal dia, mana tau dia bisa melihat kearah lo dan ada kemungkinan lo bisa memiliki dia” heee? Aneh tapi aku pun tidak bisa berkata apa-apa.

      Menunggu dan menunggu, entah apa yang aku tunggu. Sampai akhirnya aku berhenti menunggu setelah dua malam berikutnya sejak obrolan terakhirku dengannya di facebook dia mengirim ku sebuah pesan singkat. Yang sangat-sangat singkat!

No comments:

Post a Comment