"Siapa sih?" Potong Dania.
“Iya, sabar dong. Gue suka sama Rama, ehehehe tapi jangan kasih
tau siapa-siapa ya” ujarku setengah malu.
“Rama? Lo suka Rama? Kok bisa? Trus hubungannya sama pertanyaan
awal lo tadi apa?” pertanyaan yang sungguh aneh.
Dan
aku pun menceritakan awal kisahnya. Aku menyukai Rama. Aku mengetahuinya cukup
aneh dan memalukan melalui jejaring sosial facebook. Dia selalu hadir disetiap
pagi mingguku dengan mengirimkan obrolan-obrolan singkat. Awalnya, aku selalu
mengabaikan setiap obrolannya tetapi batinku selalu bertanya akan dia dan membuat
aku selalu mencari tau tentang dia, akhirnya aku menyukainya dan ingin mengenal
lebih dekat. Entahlah, tak dapat ku bayangkan aku mulai menyukai seseorang
cowok!
Tapi, satu
hal membuatku tak yakin dengan apa yang kurasa. Orang yang dulu dekat denganku pernah
memiliki hubungan dengan Rama. Ya, walau pernah memiliki hubungan dan sudah tidak
ada lagi, aku masih saja berpikiran aku takut dan aku tidak ingin menyakiti
orang yang dulu dekat dengan ku itu tapi apa yang selalu Dania katakan padaku
membuat ku tertegun,
“Dia udah gak ada lagi hubungannya, toh
terserah lo dan Ramanya dong, kenapa dia harus marah? Kan dia udah bukan punya Rama
lagi. Duh Oca, kamu takut kenapa sih? Biasa aja lagi. Kalo dia sampe ngelabrak
lo, gue yang maju duluan” ucapan Dania yang berkoar-koar membuatku tak
memikirkan lagi orang yang dekat dengan ku itu. Dania benar.
Bersama Dania, setiap sore aku selalu
keliling kota hanya untuk mencari Rama. Mungkin aku sudah gila, berubah menjadi
orang yang aneh, mulai memperhatikan
penampilan dan tidak pernah datang terlambat lagi. Cukup aneh bukan? Untuk apa
aku berubah? Untuk menarik perhatiannya? Konyol! Tapi semuanya tidak sia-sia,
setiap aku mencarinya aku akan selalu bertemu dengannya entah bagaimana
caranya. Kulakukan itu setiap hari dan Dania pun juga mendukungku. Termasuk
Eira, aku juga menceritakan kepadanya.
Hingga
suatu hari, semuanya sirna. Kegiatan konyol ku dengan Dania seakan sia-sia.
Setiap
perubahanku tidak ada artinya. Ketika aku membuka facebook-ku, diberanda tampillah perubahan status hubungannya dengan
seorang cewek. Cewek yang aku kenal dulunya adalah adik kelas ku yang satu SMP
dengan ku. Ternyata Rama baru jadian dihari itu. Sungguh tidak bisa ku
bayangkan, ternyata dia tidak pernah melihat kepadaku, sekalipun menoleh dan
mungkin hanya aku yang terlalu berharap selama ini.
**
Aku menatap jauh ke langit biru, begitu
bersih tak ada gumpalan awan putih. Sama seperti hatiku saat ini, masih bersih
tidak pernah terwarnai. Terbesit diotakku, apakah aku bisa memilikinya? Tidak,
tidak untuk memilikinya tapi hanya untuk mengenal lebih dekat.
Masih saja aku berharap padahal Rama
sudah ada yang punya. Dia tidak lagi hadir disetiap mingguku. Tidak ada lagi.
Aku ingin melupakannya. Membuang jauh rasa ini, tetapi keinginanku hanya untuk
mengenalnya lebih dekat membuatku mengurungkan niatku. Entah apa yang membuat
aku ingin mengenalnya. Aku menantinya.
Sekitar dua minggu berlalu…
Penantian ku berujung manis, Rama putus
dengan ceweknya itu. Tapi bukan berarti aku ingin dia menjadi milikku dan hadir
disetiap pagi mingguku lagi, tapi aku hanya ingin mengenalnya tanpa harus ada
penghalang. Entah bagaimana caranya tapi aku tidak akan memulai. Dan yang ku
lakukan hanya menunggu lagi.
Sebulan berlalu…
Tidak ada tanda-tanda, kurasa aku tidak
akan berharap lagi, setelah dia putus bukannya aku bisa mengenalnya tapi malah
dia tidak pernah muncul lagi. Aku tidak mau berharap lagi. Cukup. Aku tidak
ingin mengenalnya. Aku menyukainya tetapi dia tidak pernah tau. Aku kembali
seperti aku yang dulu, yang tidak ingin mencarinya kesana sini, membiarkan
penampilanku seadanya dan semena-mena datang terlambat.
Tapi baru beberapa langkah aku berubah,
Rama kembali lagi. Mimpi apa aku? Dia mulai menyapaku lagi difacebook. Tapi
tidak terlalu aku tanggapi, aku sudah tidak ingin mengenalnya lagi walau masih
tersimpan rasa suka kepadanya. Selalu membayangkan membuat ku semakin tersakiti
dengan angan-angan yang tak pernah terjadi. Ya, angan-angan yang hanya hinggap
dilangit sana terus menerus yang tidak pernah bisa kusentuh keberadaan
nyatanya.
Hingga suatu malam, tiba-tiba dia
mengirimku sebuah obrolan, aku mengira itu hanya obrolan biasa tapi aku salah,
dia menanyakan hal yang tidak aku sangka.
“Hai,
Ca” sapanya.
“Hai
juga” aku membalas dengan sekedarnya.
“Hmm..
Boleh minta nomernya gak?” tanyanya to
the point.
“Nomer
apa?” Aku yang setengah terkejut hanya bisa bertanya balik seperti itu.
“Nomer
handphone-nya lah masa nomer sepatu” jawabnya.
Aku terdiam sejenak,
tidak ku balas obrolannya, aku masih tidak yakin dan percaya, benarkah ini?
Apakah ini mimpi? Tidak, tidak, ini nyata. Lalu kubalas obrolannya.
“Hmm..
Boleh” jawabku dan kuberi nomernya.
“Makasih
ya” Ujarnya.
“Sama-sama”
Ucapku singkat.
Kumatikan obrolan dan
kututup akun facebook-ku.
Aku tertegun. Yakinkah aku? Dengan
bodohnya langsung memberikan nomor handphone-ku. Bodoh! Bodoh! Kenapa aku harus
memberinya langsung? Tanpa berpikir dulu? Oca bodoh! Aku merasa ada yang lain,
entah itu baik atau buruk. Kucoba untuk menghilang semua pikiran itu.
**
Apa yang harus ku lakukan?
Bingung. Menunggu? Haruskah aku menunggu berulang kali untuk hal yang tidak
pasti? Lelah membuatku tidak akan menunggu lagi. Memang ini bisa menjadi langkah untuk aku
mencoba mengenalnya. Tetapi untuk apa aku menunggu? Aku memang
menyukainya tapi dia belum tentu! Hatiku berkata.
Tapi anganku ingin mengenal
Rama kembali lagi membuatku menunggu. Ingin mengenalnya, hanya mengenal walau
sedikit demi sedikit ada rasa untuk memilikinya. Entahlah, aku sudah buta
dibuatnya. Bertanya pun pada Dania dan Eira, mereka hanya menjawab, “Tunggu aja
deh, kan lo mau mengenal dia, mana tau dia bisa melihat kearah lo dan ada
kemungkinan lo bisa memiliki dia” heee? Aneh tapi aku pun tidak bisa berkata
apa-apa.
Menunggu dan menunggu, entah
apa yang aku tunggu. Sampai akhirnya aku berhenti menunggu setelah dua malam
berikutnya sejak obrolan terakhirku dengannya di facebook dia mengirim ku
sebuah pesan singkat. Yang sangat-sangat singkat!
No comments:
Post a Comment