Oca?
Hanya tiga huruf dan ditambah satu tanda tanya. Pengirimnya hanya nomor yang tidak aku ketahui. Aku yang sebelumnya tidak tau itu Rama pun membalas dengan singkat.
Hanya tiga huruf dan ditambah satu tanda tanya. Pengirimnya hanya nomor yang tidak aku ketahui. Aku yang sebelumnya tidak tau itu Rama pun membalas dengan singkat.
Iya, maaf ini siapa ya?
Satu menit kemudian, pesan
singkat masuk lagi di handphone-ku. Aku membukanya dan lagi-lagi dari nomor
yang sama.
Siapa hayo?
Aku semakin bingung. Siapa
ini? Kenapa malah balik bertanya? Aku pun tidak membalas sms nya lagi. Aku
paling tidak suka orang yang tidak ada kerjaan dan hanya mengganggu saja. Tidak
penting!
Sepertinya kebodohan ku
semakin menjalar, keesokan harinya baru lah aku tau ternyata orang yang
mengirim pesan singkat kemarin itu adalah Rama. Setelah dia memberi tau ku
siapa dia yang sebenarnya.
Ca, ini aku Rama. Kok kamu gitu sih bales sms-nya?
Bukannya aku senang, aku
malah terdiam. Berpikir bodohnya aku telah mengabaikan smsnya kemarin padahal
aku selalu menunggu, menunggu untuk bisa mengenalnya. Menunggu, setelah
berujung malah aku abaikan. Jangan
abaikan, jangan abaikan, jangan abaikan hatiku berkata.
Keesokan harinya.
Semakin aku menunggu, malah
semakin tidak ada lagi smsnya. Sejak dia memberi tau ku siapa dia sebenarnya,
namanya tidak pernah muncul lagi dilayar handphone-ku. Aneh, aku abaikan dia
hadir, aku tunggu dia pergi.
Hari demi hari, dia muncul lagi walau hanya sesekali
mengirim ku pesan singkat. Tidak terlalu aku pikirkan, mulai sekarang aku tidak
pernah berharap. Tapi lagi-lagi disuatu hari tiba-tiba dia menyatakan….
Kamu mau gak jadi
pacar aku?
Akankah aku layak berharap? Entah harus percaya atau
tidak. Entah harus bahagia atau tidak. Selalu terngiang. Ini bukan lagi tentang
mengenalnya. Apa yang harus kujawab? IYA? Secepat itu kah. TIDAK? Aku sudah
menyukainya dan sudah menunggu terlalu lama. Terbesit orang yang dulu pernah
dekat dengan ku yang ada hubungannya dengan masa lalu Rama. Apa jadinya jika
dia tau? Aku tidak ingin dibenci dan dia marah padaku. Iya aku tau, dia dan
Rama memang menjalani hubungan yang cukup lama, itulah yang menjadi ketakutanku,
selalu saja hubungan Rama dengan masalalunya. Aku berpikir dan aku bertanya
pada Dania. Aneh sekali, ini masalah aku, kenapa harus bertanya pada Dania?
Dania menjawab, “Jalani aja dulu, lo udah lama nunggu
tuh! Lagian kenapa lagi lo pikirin tuh orang? Kan udah gue bilang dia udah gak
ada hubungannya lagi sama Rama, gak usah dipikirin, Rama aja udah gak mikirin
dia, kenapa lo yang jadi mikir-mikir dia, keenakan dia dong dipikirin sama lo,
sementara dia gak pernah mikirin perasaan lo kan? Lo gak usah mikir dia deh, pikir
aja perasaan lo sendiri!”
Dania memang benar, tapi aku tidak lantas menjawab
pertanyaan Rama, aku bertanya pada Eira.
Eira hanya menjawab, “Asal lo bisa ngejalani gak usah
dipikirin lah hal-hal yang begituan, gak guna!”
Singkat namun jawaban Eira tepat. Akhirnya, setelah
aku berpikir dengan apa yang teman-temanku katakan aku jawab pertanyaan yang
selalu terngiang-ngiang itu. Pendapat temanku benar adanya.
Kita jalani aja dulu
ya.
Sejak saat itu, akhirnya angan-angan belakaku dapatku
sentuh. Dapatku genggam. Aku tidak hanya mengenalnya tapi bahkan aku sudah
memilikinya. Aku tidak harus lagi menunggu. Dia selalu hadir, tidak hanya
sesekali dan tidak hanya dipagi mingguku saja. Hidup ini seakan sempurna. Memiliki
keluarga yang bahagia, memiliki Eira, Dania dan juga Raisa, Harma, Tifani, Uti,
Ola sahabat yang aku sayangi seperti aku menyayangi Rama.
Mentari selalu mendabakan Purnama. Mentari dan Purnama
ditakdirkan bertemu tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Mentari menemani
dengan sinarnya disiang hari dan Purnama menyinari dengan indahnya dimalam
hari. Menggenggam pijar Purnama sangatlah tidak mudah. Purnama akan muncul dibeberapa
bulan saja. Jangankan untuk menggenggam, melihatnya pun susah. Aku harus
menunggu malam, ketika Purnama datang. Apalagi akan menggenggamnya, butuh
beribu kali usaha agar dapat mencapainya diatas sana, bersama bintang-bintang.
Begitu juga denganku, aku harus menunggu, menunggu dan menunggu hingga dapat
menggenggam pijar dari seorang Purnama Caturama.
*****
This is the last part. I dedicated this story for everyone who read this, especially YOU. thanks for reading and your time to read ^^
Regards,
Yuni Widyastuti.
No comments:
Post a Comment