Monday, March 03, 2014

Menggenggam Pijar Purnama (Part III, the end)

        Oca?
        Hanya tiga huruf dan ditambah satu tanda tanya. Pengirimnya hanya nomor yang tidak aku ketahui. Aku yang sebelumnya tidak tau itu Rama pun membalas dengan singkat.
        Iya, maaf ini siapa ya?
      Satu menit kemudian, pesan singkat masuk lagi di handphone-ku. Aku membukanya dan lagi-lagi dari nomor yang sama.
         Siapa hayo?
      Aku semakin bingung. Siapa ini? Kenapa malah balik bertanya? Aku pun tidak membalas sms nya lagi. Aku paling tidak suka orang yang tidak ada kerjaan dan hanya mengganggu saja. Tidak penting!
      Sepertinya kebodohan ku semakin menjalar, keesokan harinya baru lah aku tau ternyata orang yang mengirim pesan singkat kemarin itu adalah Rama. Setelah dia memberi tau ku siapa dia yang sebenarnya.
      Ca, ini aku Rama. Kok kamu gitu sih bales sms-nya?
      Bukannya aku senang, aku malah terdiam. Berpikir bodohnya aku telah mengabaikan smsnya kemarin padahal aku selalu menunggu, menunggu untuk bisa mengenalnya. Menunggu, setelah berujung malah aku abaikan. Jangan abaikan, jangan abaikan, jangan abaikan hatiku berkata.
      Keesokan harinya.
      Semakin aku menunggu, malah semakin tidak ada lagi smsnya. Sejak dia memberi tau ku siapa dia sebenarnya, namanya tidak pernah muncul lagi dilayar handphone-ku. Aneh, aku abaikan dia hadir, aku tunggu dia pergi.
Hari demi hari, dia muncul lagi walau hanya sesekali mengirim ku pesan singkat. Tidak terlalu aku pikirkan, mulai sekarang aku tidak pernah berharap. Tapi lagi-lagi disuatu hari tiba-tiba dia menyatakan.

Kamu mau gak jadi pacar aku?
Akankah aku layak berharap? Entah harus percaya atau tidak. Entah harus bahagia atau tidak. Selalu terngiang. Ini bukan lagi tentang mengenalnya. Apa yang harus kujawab? IYA? Secepat itu kah. TIDAK? Aku sudah menyukainya dan sudah menunggu terlalu lama. Terbesit orang yang dulu pernah dekat dengan ku yang ada hubungannya dengan masa lalu Rama. Apa jadinya jika dia tau? Aku tidak ingin dibenci dan dia marah padaku. Iya aku tau, dia dan Rama memang menjalani hubungan yang cukup lama, itulah yang menjadi ketakutanku, selalu saja hubungan Rama dengan masalalunya. Aku berpikir dan aku bertanya pada Dania. Aneh sekali, ini masalah aku, kenapa harus bertanya pada Dania?
Dania menjawab, “Jalani aja dulu, lo udah lama nunggu tuh! Lagian kenapa lagi lo pikirin tuh orang? Kan udah gue bilang dia udah gak ada hubungannya lagi sama Rama, gak usah dipikirin, Rama aja udah gak mikirin dia, kenapa lo yang jadi mikir-mikir dia, keenakan dia dong dipikirin sama lo, sementara dia gak pernah mikirin perasaan lo kan? Lo gak usah mikir dia deh, pikir aja perasaan lo sendiri!”
Dania memang benar, tapi aku tidak lantas menjawab pertanyaan Rama, aku bertanya pada Eira.
Eira hanya menjawab, “Asal lo bisa ngejalani gak usah dipikirin lah hal-hal yang begituan, gak guna!”
Singkat namun jawaban Eira tepat. Akhirnya, setelah aku berpikir dengan apa yang teman-temanku katakan aku jawab pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang itu. Pendapat temanku benar adanya.
Kita jalani aja dulu ya.
Sejak saat itu, akhirnya angan-angan belakaku dapatku sentuh. Dapatku genggam. Aku tidak hanya mengenalnya tapi bahkan aku sudah memilikinya. Aku tidak harus lagi menunggu. Dia selalu hadir, tidak hanya sesekali dan tidak hanya dipagi mingguku saja. Hidup ini seakan sempurna. Memiliki keluarga yang bahagia, memiliki Eira, Dania dan juga Raisa, Harma, Tifani, Uti, Ola sahabat yang aku sayangi seperti aku menyayangi Rama.
Mentari selalu mendabakan Purnama. Mentari dan Purnama ditakdirkan bertemu tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Mentari menemani dengan sinarnya disiang hari dan Purnama menyinari dengan indahnya dimalam hari. Menggenggam pijar Purnama sangatlah tidak mudah. Purnama akan muncul dibeberapa bulan saja. Jangankan untuk menggenggam, melihatnya pun susah. Aku harus menunggu malam, ketika Purnama datang. Apalagi akan menggenggamnya, butuh beribu kali usaha agar dapat mencapainya diatas sana, bersama bintang-bintang. Begitu juga denganku, aku harus menunggu, menunggu dan menunggu hingga dapat menggenggam pijar dari seorang Purnama Caturama.
*****
This is the last part.  I dedicated this story for everyone who read this, especially YOU. thanks for reading and your time to read ^^

Regards,
Yuni Widyastuti.

No comments:

Post a Comment